KRISIS LINGKUNGAN
Tiga Harimau Sumatera Mati Dijerat
Rabu, 25 Februari 2009 | 00:12 WIB
Pekanbaru, Kompas – Konflik manusia dengan hewan yang dilindungi kembali terjadi di Riau. Dalam dua pekan terakhir, tiga harimau sumatera (Phantera tigris sumatrae) tewas mengenaskan dijerat warga setelah sebelumnya hewan langka itu memakan hewan peliharaan warga di Desa Tanjung Pasar Simpang, Kecamatan Pelangiran, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau.
”Tiga minggu lalu kami sangat resah karena harimau-harimau itu memakan peliharaan kami. Tiga kambing saya mati, sementara tetangga saya kehilangan anjing dan ayam puluhan ekor,” ujar Moko, warga Desa Tanjung Pasar Simpang, Selasa (24/2).
Moko menambahkan, setelah harimau masuk ke perkampungan, warga membicarakan cara menangkal serangan hewan buas itu. Akhirnya diputuskan cara menangkap harimau dengan menjerat. ”Mantri Hajat, mantri hewan di Kecamatan Pelangiran yang biasa menjerat hewan, disuruh untuk menjerat harimau itu. Tanggal 10 Februari, sepasang harimau berukuran sedang dengan panjang sekitar 1,5 meter tertangkap. Namun, harimau itu sudah mati,” kata Moko.
Tanggal 16 Februari, jerat warga kembali menelan korban. Seekor harimau jantan kembali terjerat dan ditemukan mati.
Kejadian matinya tiga harimau itu baru diketahui setelah World Wide Fund for Nature (WWF) menerima informasi dari warga, Senin lalu. Menurut Syamsidar dari WWF, setelah menerima informasi itu, pihaknya langsung menerjunkan tim pemantau ke lapangan. ”Kami mendapat informasi bahwa ada masyarakat yang mengambil foto hewan itu ketika dalam kondisi terjerat,” ujar Syamsidar.
Secara terpisah, Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Departemen Kehutanan Darori, yang dihubungi di Mukomuko, Bengkulu, mengaku belum menerima informasi kematian tiga harimau di Riau. Darori mengatakan akan memerintahkan Balai Konservasi Sumber Daya Alam Riau untuk menuntaskan kasus itu.
Syamsidar mengatakan, konflik harimau dan manusia di Indragiri Hilir merupakan yang tertinggi di Riau pada saat ini. Konflik itu semakin tinggi saat harimau kehilangan habitat asli.
Hari Minggu lalu, seekor harimau menerkam Toni, penjaga kebun kelapa sawit di Kecamatan Gaung, Kabupaten Indragiri Hilir. Toni kemudian ditolong oleh temannya, Mamat. Toni mendapat luka serius di bagian punggung dan paha serta mengalami patah di bagian lengan kanan. Mamat mengalami luka cakaran di tangan kanan dan kiri. (SAH)
source: http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/02/25/0012447/tiga.harimau.sumatera.mati.dijerat
————————————————
Ri ga tau lagi harus ngomong apa setiap kali ngeliat berita kya gni. Hmphhh… Pertumbuhan populasi menyebabkan masyarakat merambas hutan untuk dijadikan pemukiman baru. Bukan hanya alasan kebutuhan akan papan tetapi juga perambahan hutan untuk alih fungsi menjadi perkebunan demi kebutuhan pangan.
Harimau, salah satu penghuni hutan tentunya merasa wilayahnya terusik. Selain merasa wilyahnya terusik, berkurangnya lahan hutan tentu menyebabkan berkurangnya populasi-populasi penghuni hutan yang mana selanjutnya mengganggu ekosistem. Rantai makanan menjadi kacau, ditambah dengan perburuan-perburuan yang dilakukan manusia. Serakah banget sih! Huh..
Ngga heran kemudian sang harimau ‘menjajah’ wilayah warga (yang sebelumnya adalah wilayah sang harimau) demi mengisi kebutuhan perutnya. Poor harimau, uda wilayahnya dirampas, mencoba mencari ’sesuap daging’, akhirnya mati dijerat.
Lagi-lagi berita selanjutnya adalah turunnya para personil WWF ke lapangan, bukan personil pemerintah sebagai yang utama, mereka hanya aktor tambahan penyedia birokrasi. Ri ngga akan bersaran apapun, habis kata nih.. duh.
Riri